Kamis, 29 Maret 2012

Fake

Ya. Fake. Kata itulah yang muncul dipikiranku saat melihat kalian.
Aku mengenal kalian sudah lama. Bahkan salah satu dari kalian sudah kukenal sedari kecil. Berarti sudah 14 tahun aku mengenalmu. Sebut saja si A. sedangkan yang lain, aku mengenalnya sejak sekitar 5 tahun yang lalu.  Tapi aku baru mengenal kalian dan melihat kalian lebih dekat sekitar 1,5 tahun.

Bukan maksudku untuk mencampuri urusan kalian guys. Tapi aku ngerasa ada yang aneh. Bahkan sejak pertama kali aku melihat kalian dekat, sekitar1,5 tahun yang lalu (melihat didepan mataku) . selain itu juga, salah satu dari kalian mengijinkanku memberi opini atas ‘kalian’. :p

Oke, memang sejak awal aku sudah mengira ada yang aneh dengan kalian. Apa sih yang aneh? Hmm… sebenernya juga aku nggak bisa menjelaskan dengan detail apa masalahnya. I just feel it. Terserah kalau menurut kalian ini boongan atau nggak bisa dipercaya. Bahkan akupun saat itu meragukan pendapatku sendiri. Yang akhirnya aku abaikan.

Tapi, saat aku sudah mencoba untuk meletakkannya di pikiranku yang paling belakang, berharap untuk segera lenyap, namun kenyataan lah yang membawanya kembali kepermukaan. Aku membaca peristiwa, momen yang tidak sengaja ada didepan mataku. Dan itu semua menjawabnya. Bahkan, sekarang ini sudah jelas. Kamu sudah memberikan pengakuanmu kepadaku. Dan kepada sahabatku.

Aku bingung. Sejujurnya kawan, aku bingung. Dulu, saat pertama kali aku sadar, aku langsung berpikir  p*r********n macam apa ini?

Sekarang, apa yang kamu lakukan terhadapnya itu sangat menyakitkan kawan. Jika aku menjadi ‘nya’, jujur, aku akan menangis. Tidak pernah berhenti berpikir: apa yang telah kulakukan? Apa yang salah dari ku?

Sekarang, bila kamu menanyakan kepadaku bagaimanakah solusinya, aku akan menjawab: jika kamu tetap memilih ‘itu’ mulailah mengurangi kedekatanmu dengan nya. Cara ini memang butuh waktu supaya kamu nggak nyakitin si ‘nya’. Atau kalau kamu berani ya, ajak si nya ngomong langsung. Tumpahin semua keluh kesahmu. Tapi tetaplah jaga perasaannya. Yah kamu tau lah maksudku.  

Ketahuilah kawan. Kalian sudah bersama dalam waktu yang lama. Jika kamu memang benar pernah merasakan kedekatan itu, kedekatan sebagai ‘tit’, perasaanmu itu nggak sepenuhnya hilang. Pasti massih ada yang tersisa ;)

Sebenernya, menurutku kalian itu beruntung. Sungguh. Kalian ditakdirkan bisa selalu dekat. Padahal jarang sekali ada orang yang mendapat ‘sesuatu’ seperti itu. So, syukuri kawan ;)

*maaf kalo ada kata yang nggak enak, nggak sopan dan menyakitkan. Aku nggak bermaksud jelek kok K
**kalau nggak nyambung, bisa Tanya ke aku secara langsung. Aku bakal njelasin maksudku kalau kamu adalah orang yang tepat :p

Senin, 26 Maret 2012

My First Fear about You

last night i was looking for my blog. another one. then i found this :

you say that you love rain, but you open your umbrella when it rains
you say that you love the sun, but you find a shadow spot when the sun shines
you say that you love wind, but you close your windows when wind blows
this is why i am afraid, you say that you love me too
-william shakespeare

and now, it is happening to me... (aug 25th 2011)

and :

you...
you are everything
your voice
your smile
your hair
your smell
even your way to walk

i always remember it...

why you have to be so charming?
please, stop being so charm
you make me love you while i know
you will never be mine... (aug 26th 2011)

 galau time :p

Jumat, 23 Maret 2012

Libur

Libur telah tibaaaa

Weits, emang sih bukan liburan kayak biasanya. Liburan kali ini liburan luar biasa. Wai? Karena, liburan kali ini aku melalui hari dengan kegiatan yang seruuu.  Yang artinya, aku jadi amnesia tentang tugas. Sampai hari ini pun, aku belum ngerjain tugas apa-apa. Rekor. Ancen suwupangar.

Yuk lanjut, liburan kali ini bukanlah libur pada umumnya. Liburan ini dalam rangka adanya usek alias ujian sekolah yang dilaksanakan untuk mbak mas kelas 12. Sedangkan kelas 10 sama 11 nya? Mari kita nikmati surga dunia~

Sebenernya nih, aku kok jadi mikir, kayanya enakan masuk deh. Kayak tetangga sebelah, meskipun masuknya sebentar dan nggak ada pelajaran, kan malah enak tuh kita nggak dibebani tugas. Huf pake t. yaudahlah tapi disyukuri saja

Okedeh, daripada banyak bacot, tak critani kegiatanku hari demi hari yaw. Ohya, buat mbak mas kelas 12, semangat yaaa buat ujiannya *\(^o^)/*

Kamis, 15 Maret 2012

Cold

Hidup itu singkat, banyak orang mengatakan itu. Tetapi aku tak pernah percaya, kenapa hidup harus dikatakan singkat sedangkan hidup kita sendiri panjang. Aku adalah anak laki-laki yang bahagia, dan aku adalah satu-satunya anak laki-laki dikeluargaku. Kelahiranku adalah kebahagiaan yang tak terkira untuk orang tua ku, dan begitu juga untuk keluargaku. Orang tuaku menamaiku Freddy Jones, nama yang cukup gagah untukku. Aku tinggal dan besar di Moon Hills, tempat tinggalku cukup menyenangkan. Hampir semua orang di Moon Hills mengenalku, aku pun mengenal mereka.

Tetapi ternyata dugaanku salah, tak semua ku kenal. Setidak nya satu orang. Saat itu umurku baru 6 tahun ketika ibuku mendandaniku, ia memakaikan pakaian yang terbaik yang ada dilemariku.
“kita mau kemana bu?” tanyaku saat ibuku memakaikan sepatu di kakiku.
“ kita akan menghadiri pesta ulang tahun nak, kau harus bersiap-siap.” Aku hanya memandang kosong ke arah ibu ku, setahuku tak ada yang ulang tahun hari ini.
tetapi ibu ku menarik tanganku terlebih dahulu sebelum aku menemukan jawabannya. Aku dan ibuku berjalan melewati blok rumah kami, aku tak bisa melawan. Aku bagaikan narapidana yang akan menghadapi hukuman, tak tahu akan dibawa kemana, peraturannya adalah aku harus tetap ikut.

Setelah melewati beberapa blok akhirnya aku dan ibuku berada di halaman sebuah rumah, rumah yang cukup bagus. Banyak sekali hiasan disana sini, dan ramai sekali seperti nya didalam sana. Ini benar-benar pesta ulang tahun. Ibuku mengetuk pintu, dan pintu terbuka. Muncul seorang wanita yang cukup cantik, ia mengenakan gaun krem. Ibu ku menyapanya dan mereka saling berpelukan, mereka terlihat sangat akrab. Wanita itu juga menyapaku, ia memuji baju yang ku pakai dan bagaimana tampannya aku memakainya. Kami pun masuk ke dalam, ternyata pesta belum dimulai tetapi tamu sudah sangai ramai. Aku mengenal beberapa dari anak yang hadir, jadi tak sulit buatku untuk bergabung dengan mereka. Ternyata hari itu yang berulang tahun adalah seorang anak perempuan seumuranku, namanya Bridget Finn. Aku tak tahu siapa dia, tetapi setidaknya itu yang tertulis dikue tart besar yang ada di tengah ruangan. Saat itu aku pun baru menyadari ternyata aku tak sempat menyelesaikan makan siang ku tadi, ibu lebih dulu menarikku untuk bersiap-siap. Perutku sudah mulai terasa lapar, dan kue tart itu sepertinya enak. Aku tak dapat menahan rasa lapar ku, ku lihat sekeliling tak ada yang memperhatikan. Satu saja gigitan di kue ini tak masalah, pikirku.
Ku angkat tanganku dan ku raih kue itu, kemudian ku masukan kedalam mulut. Ternyata kue itu memang enak sekali. Baru saja ingin ku telan, tiba-tiba seseorang berteriak.
“ibuuuu, dia memakan kue ku. bahkan aku belum memotongnya.”
Ketika aku menoleh ternyata dibelakangku ada seorang anak perempuan, dia menangis dan menunjuk ke arahku. Aku bingung, seketika wanita yang tadi ku lihat saat datang berusaha menenangkan anak itu. Ibu ku pun datang, ia mengatakan betapa jahatnya perbuatanku. Aku pun menyesal, tetapi aku tak tahu harus bersikap seperti apa. Ibu ku menyuruhku untuk meminta maaf, karena takut dimarahi, aku pun mengulurkan tangan menandakan meminta maaf. Anak perempuan itu pun ikut mengulurkan tangannya, saat itu lah aku melihatnya dengan jelas.

Ternyata dia anak perempuan yang manis, rambut hitam nya yg panjang tergerai. Ia mengenakan gaun berenda dan bermotif bunga-bunga, aku pikir dia adalah anak yang manis.
“lihat kan Bridget, dia tak sungguh-sungguh melakukannya. Mungkin dia tidak sengaja.”
Saat itu lah aku mengetahui bahwa dialah Bridget Finn, anak perempuan yang berulang tahun saat itu. Sepanjang pesta itu aku bermain dengannya, ternyata benar dia anak yang manis. Dia sangat ceria, dan baik. Kami melakukan permainan-permainan konyol bersama, dan saat aku melihatnya tertawa aku seperti sangat bahagia, senyumnya benar-benar membuatku tak bisa melupakannya. Hidup memang tidak sesingkat seperti yang orang katakan, itulah yang aku lihat disenyum Bridget. Kami berfoto bersama saat itu….

Setelah saat itu sepertinya Bridget tak mengingat, aku tak menyalahkannya. Dengan apa yang dia alami, pasti tak ada waktu untuk mengingat seorang bocah lelaki nakal sepertiku. tetapi aku tetap mengawasi dan menjagamu Bridget. Akhirnya setelah beberapa tahun aku dapat bertemu denganmu lagi, berkat kecerobohanku. Sepertinya kecerobohanku adalah satu-satunya hal yang mempertemukan kita, aku sangat berterimakasih akan kecerobohanku. Kita bisa berkenalan lagi, walaupun kau sama sekali tak mengingatku, aku tak pernah keberatan. Bahkan foto kita saat ulang tahunmu masih terpasang rapih di dinding kamarku, aku berterimakasih sekali karena kita bisa bersama. Walaupun tak lama, aku tak pernah menyangka jika malam itu adalah malam terakhir kita bisa menghirup nafas di dunia...

Saat aku melihat mu berlari dari ayahmu, aku tahu dan yakin bahwa aku akan menyelamatkan mu. Aku tak akan lari, satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah membawamu ke tempat yang aman. Aku tak akan melepaskan tanganmu, dan tak akan ku biarkan dia menyakitimu sedikit pun. Tetapi aku tak bisa menepati janji, dia lebih kuat dari pada yang ku kira.
Harusnya ku datangi pusat kebugaran lebih sering dari biasanya agar aku bisa lebih kuat dari dia, tetapi semuanya terlambat. Hati ku remuk saat melihat pisau itu menyanyat tubuhmu, menghancurkan setiap nadi dan pembuluh darahmu. Amarah ku membuncah saat melihat ayah mu dengan bengisnya melemparmu dari jembatan, dan membiarkan tubuhmu hancur menghantam air yang dingin. Tubuhku bahkan sampai bergetar, ku lawan ayahmu dengan sekuat tenaga. Ingin ku patahkan saja lehernya saat itu, tetapi tenaga nya lebih kuat dariku. Dengan tanpa ragu-ragu ia menjambak rambutku dan menyeretku ke tengah hutan, aku berontak. Ku gigit tangannya, tetapi dia membalas dengan menggoreskan pisaunya diwajahku. Ia memukulku hingga ku tak sadarkan diri, ketika aku sadar aku sudah berada di sebuah gubuk di tengah hutan. Tangan ku diikat, aku terikat kuat di sebuah kursi. “beraninya kau mendekati anak ku tanpa seizinku.”
Ayah mu memainkan pisaunya dimata ku, aku dapat melihat iblis di balik matanya.
“kau tau, ku pikir kau pantas untuknya. Maka kau susul lah dia.”
Seketika ia menancapkan pisaunya tepat dijantung ku, nyeri menjalar ke sekujur tubuhku. Keringat ku metes, dada ku nyeri sekali. Tubuhku gemetar hebat, baju ku jadi basah oleh darah. Ayah mu mencabut pisaunya dan menusukan ke perutku, ia mengoyak dan mencabik perut ku. Aku demam hebat, nafasku semakin pelan. ternyata seperti itu rasa nya menghadapi kematian, terlintas di pikiranku tentang keadaan mu. Dimana kau berada saat itu, tetapi aku yakin kau tak jauh.

Diantara rasa nyeri itu aku dapat mendengar panggilanmu. Nafas ku sudah semakin berat, mungkin akan terhenti. Ayah mu menyaksikan kematian ku, ia berjalan maju. Ia mengatakan “sampaikan salamku kepada Bridget.” Lalu ia menancapkan pisaunya tepat di mataku, rasa perih yang hebat menjalar dan ku rasakan tubuhku sangat ringan. Seperti melayang diudara, melayang meninggalkan gubuk itu. Pandanganku gelap…

Ketika sadar aku sudah berada ditengah hutan, aku terduduk di sebuah pohon. Keadaan hutan sangat sepi, untuk beberapa saat aku pikir aku masih hidup, tetapi semua pupus saat ku lihat sebuah sepatu menyembul dari tanah. Sepatu itu adalah sepatuku, ternyata ayahmu menguburkan jasadku tepat di tengah hutan. Air mata mengalir dari mataku, aku tak tahu harus kemana, ku kelilingi hutan entah untuk apa. Aku tak tahu sudah berapa lama ku kelilingi hutan ini, mungkin satu hari, satu tahun, atau satu abad. Aku tak pernah lelah, aku tak pernah takut.

Hingga suatu hari, samar-samar aku mendengar suara mu bridget. Aku mendengar suaramu memanggil namaku, tanpa ragu ku ikuti suara samar-samar itu. Aku tak tahu kemana aku berjalan, yang aku tahu ini akan menuntunku kepadamu. Akhirnya aku sampai, aku sampai kejembatan itu. Dan aku melihatmu disana, kau duduk di bibir jembatan sambil bersenandung.
Ditengah malam yang sunyi dan dingin kau bersenandung, beberapa kali kau selingi dengan memanggil nama ku. Tetapi hati ku kembali remuk saat melihat luka menganga di punggungmu akibat cabikan pisau ayahmu, dan wajahmu yang manis itu terlukai.
Seketika itu aku murka, aku sudah berjanji untuk tak membiarkan siapaun menyakiti mu. Aku ingin sekali menemui mu saat itu, tetapi aku sadar ada satu hal yang harus ku lakukan terlebih dahulu. Malam itu ku tinggalkan kau di jembatan itu, tetapi aku akan kembali lagi. Aku janji, tetap lah disana Bridget..

Malam-malam ku habiskan untuk mengetuk rumah satu persatu, aku harus mencari keberadaan ayahmu. Tak akan ku biarkan dia hidup, nadi-nadinya harus putus di tanganku.

Entah berapa lama aku mencari, hingga akhirnya aku menemukannya disebuah apartemen di tengah kota. Ingin rasanya ku habisi dia malam itu, tetapi aku tak bisa. Aku hanya jiwa-jiwa kosong sekarang. Bahkan aku tak dapat menyentuhnya. Aku sangat kesal, aku harus membunuhnya. Harus!

Hingga ku temui tuan Bill, ia sudah mendiami apartemen itu selama puluhan tahun. Dulu dia penghuni apartemen itu, tetapi suatu hari seorang anggota geng membunuhnya karena hutang. Ia sama sepertiku, ingin menuntut balas. Dan dia sudah menutut balas dendam, orang-orang yang membunuhnya sudah ia bunuh. Ia mengajariku bagaimana caranya, menurutnya aku harus mencari seseorang yang berjiwa lemah dan masuki tubuhnya.

Tak butuh waktu lama untukku menemukan orang seperti itu, kau tahu Bridget. Kita dapat menemukan ribuan orang-orang yang mau menjual jiwanya demi uang dijalanan, jadi ku gunakan salah satu dari mereka. Ku masuki tubuh orang itu, dan perlahan-lahan ku masuki apartemen ayahmu. Ku selipkan sebuah pisau tajam di tanganku, ketika ayahmu membukakan pintunya ku hantam dia sekeras-kerasnya hingga ia jatuh. Saat ia terjatuh, ku tindih tubuhnya. Dengan perlahan ku sayat lehernya dengan pisau yang ku bawa, darahnya membuncah di wajahku, aku sangat senang sekali. Akhirnya dapat ku sayat nadi-nadi dileher ayahmu, hingga akhirnya leher ayah mu terlepas dari tubuhnya. Aku tak pernah sebahagia itu, ku tinggalkan tubuh orang itu saat ayahmu sudah mati. Kini tugas ku sudah selesai, hal yang aku lakukan adalah mengikuti panggilanmu.

Ku lalui lagi hutan gelap itu, hingga akhirnya aku sampai di Moon Hills. Aku harus berpamitan kepada kedua orang tuaku, mereka harus tau dimana jasad ku berada. Aku tahu perasaan mereka, mereka pasti sedih sekali kehilangan ku bertahun-tahun. Setidaknya aku harus memberikan mereka sedikit tanda agar mereka tahu jasadku. Ku tatap wajah ayah dan ibu ku untuk terakhir kali, karena aku tahu setelah ini aku tak akan bertemu dengan mereka lagi. Ini memang berat, tetapi aku tak pernah bisa melawan takdir. Aku pun tak menyesal, aku tahu di luar sana kau menunggu ku Bridget. Kita akan kembali bersama…

Di perjalanan ku meninggalkan Moon Hills aku bertemu ayahmu, ia benar-benar minta maaf atas perbuatannya. Ia juga menyampaikan permintaan maaf nya untuk mu, saat itu ia akan kembali ke rumah mu di Moon Hills. Dimana ibu mu berada, kau tahu ibu mu masih ada di rumah mu. Ia sangat kesepian, ia hanya menatapku kosong saat bertemu dengannya. Wajahnya sangat sedih, ia tak mengucapkan apa-apa, tetapi dari raut wajahnya aku tahu dia mencintaimu, walaupun ia harus berpisah dengan mu. Aku pun berjanji dengannya untuk menjaga mu, aku tak akan ingkar kali ini. Ibu mu adalah wanita baik, aku tahu saat pertama kali aku melihatnya. Ayahmu mengatakan bahwa ia akan menemui ibu mu, ada penyesalan besar di matanya.
Aku yakin terlepas dari seberapa buruk kesalahan yang di perbuat ayahmu, dia masih mencintai ibu mu dan kau Bridget. Jadi maafkan lah dia, biarkan dia menebus kesalahannya dengan menemani ibu mu di Moon Hills.

Tak terasa aku sudah sampai di jembatan, jembatan dimana kita sempat terpisahkan. Kau masih duduk di sana, bersenandung dengan suara mu yang fals itu. Aku kembali Bridget, dan kali ini tak akan pergi….
“apakah kau menunggu seseorang?” seketika Bridget menoleh, air matanya jatuh.
“akhirnya kau kembali Freddy Jones.” Suara Bridget parau dan bahkan hampir hilang.
“yeah, aku pikir aku belum selesai dengan mu. Mungkin saja kau belum memaafkanku karena meninggalkan mu.” Mataku berkaca-kaca, seketika itu Bridget berlari dan memeluk ku. Pelukan yang lebih erat dari biasanya,
“jangan pernah meninggalkan ku lagi.” Bridget berbisik.
“tak akan."

Mereka berdua duduk bersama di tepi jembatan, bersenandung bersama. Memecahkan keheningan malam, kini malam tak lagi dingin untuk mereka. Mungkin memang benar kata orang, hidup itu singkat. Mungkin kenyataannya begitu, tetapi bagi Freddy Jones dan Bridget Finn tak masalah jika hidup mereka singkat. Karena mereka menghabiskan nya dengan orang yang tepat. Saat kau menghabiskan hidup dengan orang yang benar-benar tepat untuk mu, maka hidup tak akan pernah singkat. Hidup akan terasa lebih panjang, seakan-akan kau bisa hidup selamanya. Hidup juga akan berakhir bahagia apa pun yang terjadi.

“apakah kisah kita akan diingat oleh orang lain?” tanya Bridget.
“sepertinya tidak, orang lebih suka dengan cerita-cerita manis yang ada di buku anak-anak Bridget. Orang akan lebih suka dengan kisah yang sempurna, yang dapat memenuhi kehausan imaginasi mereka. lagi pula aku bukan lah pangeran yang menunggangi kuda, dan kau bukan seorang putri yang mempunyai segala-galanya. Kita hanya lah kenyataan yang terkadang terlupakan, kenyatan yg terlihat seperti hama di kebun bunga yang banyak disingkirkan orang. Tetapi jangan lah bersedih Bridget, setidaknya kita salah satu dari wujud kejujuran, bukan bagian dari karangan.”
Bridget memandang wajah Freddy, ia mengembangkan senyumnya.
“siapa perduli, aku pun tak perduli. Bagiku semua ini sudah cukup, aku dapat bertemu lagi denganmu. Dan dapat memberikan ini kepadamu.”
Freddy Jones mengeluarkan sesuatu dari sakunya, ternyata itu adalah sebuah foto di mana didalam nya terdapat seorang anak laki-laki dengan mulut dipenuhi noda kue yang merangkul seorang anak perempuan. Bridget tersenyum ketika menyadari bahwa anak perempuan itu adalah dirinya, dan anak laki-laki itu adalah orang yang saat ini ada di hadapannya. Mereka kembali bersenandung bersama, di iringi debur air sungai dan semilir angin dingin malam itu….


sumber : sama kaya post sebelumnya :D

Jembatan Bridget

Harusnya aku jalani hari-hariku dengan lebih bahagia, di setiap biasan cahaya matahari yang menyengat dan setiap tetes hujan yang menetes diatas pakaian ku. Tapi aku hanyalah remaja seperti yang lain, ingin semua hal berjalan dengan baik. Teman-teman ku mengatakan betapa egoisnya aku, aku tak perduli. Setiap ada orang yang menurutku menggangu, maka akan ku lawan. Aku tak perduli perasaan orang lain, sering kali beberapa orang yang aku kenal menitikan air mata akibat ulah ku. Aku tak bisa berbuat banyak, aku sangat muda dan sangat bodoh.

Aku masih 16 saat pertama kali memasuki Youth High School, sekolah satu-satunya di kota yang ku tinggali. Oh iya, aku belum mengenalkan diriku. Nama ku Bridget Finn, aku tinggal bersama ibuku dikota Moon Hills. Aku adalah anak tunggal, aku sayang orang tuaku.

Ketika aku masih berumur 8 tahun, aku adalah anak yang bahagia, ceria, dan sangat ramah. Saat itu lah aku percaya jika cinta itu adalah hal yang nyata dan amat membuat bahagia, tetapi tidak saat umur ku 13 tahun. Ketika aku lihat dengan mata kepala ku sendiri bagaimana ayah menyiksa ibu, bagaimana caranya memukul ibu ku. Ayah ku selalu mengatakan bahwa ia sangat mencintai ibuku, tetapi kini ia bagai hewan buas, dan ibu ku adalah mangsanya.

Ayahku adalah seorang pemabuk, saat menikahi ibuku ia mengatakan akan menghentikan kebiasaannya meminum minuman keras. Tetapi ternyata ia berbohong, kasihan ibuku. Satu tahun kemudian ibu ku menceraikan ayahku, dan aku ikut ibuku hingga saat ini. aku sayang ibuku, kehidupan kami semakin membaik. Tetapi aku masih melihat ada luka besar membekas di dada ibuku, semenjak bercerai sikap ibu ku berubah. Ia tidak seceria dulu, tidak sehangat dulu. Aku dapat memakluminya, aku tau bagaimana menyakitkannya perceraian itu untuknya. Untuk ku juga.
Perlahan-lahan aku menjadi pendiam, aku tak percaya siapapun atau apapun. Aku tak percaya lagi akan hal bernama cinta, bagiku cinta hanyalah kata tak berarti yang dikarang orang asing. Mungkin sekarang orang asing itu tengah memakan hatinya sendiri, siapa tau. Siapa perduli. Bagiku tak ada yang nyata, semua hanya hal semu yang dibuat-buat orang untuk membohongi dirinya sendiri. Aku tak perduli dengan perasaan orang lain, bahkan setelah membuat seseorang menangis karena kata-kata ku, aku pun tak merasakan apa-apa.
Aku tak punya teman disekolah, tetapi jika teman adalah orang yang kau temui dikelas dan sekolah maka aku punya banyak. Tetapi tak semua mau menerimaku, hanya Hannah dan Jill lah yang bisa menerimaku. Aku pun tak tahu kenapa mereka bisa menerimaku, aku pikir mereka sudah kebal dengan bisa dimulutku. Aku dingin dan tak punya perasaan, jarang ada yang mau bermain denganku. Jadi ku lewati saja hari-hari dengan tanpa perasaan, hari datang dan pergi. Tak ada bedanya.

Aku sama sekali tak pernah menyangka bahwa semua akan berakhir, entahlah harusku sebut apa dia. Pangeran tampan, atau pembawa chaya, entahlah. Tetapi kenyataannya dia memang tampan, pasti otakku sudah hancur tertabrak truk saat itu…

Namanya Freddy Jones, ia adalah pria bermata coklat. Rambut hitamnya agak naik ala tintin. Well, aku tak bisa mendeskripsikannya, film kartun yang pernah aku saksikan hanya tintin. Ketika aku melihat rambut hitamnya yang menghadap ke udara aku hanya teringat tokoh tintin. Hari itu aku sedang di cafetaria, memakan makan siangku. Aku sangat damai saat itu, sama sekali tak ada yang berani mengganguku. Hingga saat sebuah gelas berisi susu jatuh tepat dipangkuanku, aku sangat marah saat itu. Aku mengumpat dan berbicara kata-kata kotor dan hal jahat. “maafkan aku, aku benar-benar tak sengaja. Aku akan membantumu membersihkannya jika kau mau.” Sosok pria berlutut dan mencoba membersihkan kaus ku, seketika seluruh cafetaria melihat ke arahku. Aku sangat kesal, aku lelah mengumpat hingga akhirnya aku hanya bisa menggeram. Mataku melotot ke arah pria itu, seakan-akan ingin keluar dari kelopaknya.

Aku beranjak dari tempat duduk ku, dan menuju toilet untuk membasuh pakaianku. Kutinggalkan pria itu, aku tak perduli dengannya. Kuharap dia ditabrak bus saja sepulang sekolah nanti. Dengan susah payah ku bersihkan noda susu dipakaian ku, tetapi ternyata air dari wastafel tak dapat membersihkannya. Nodanya terlalu pekat, aku hanya menahan marah hingga nafasku berat.
“aku dapat membantumu membersihkannya jika kau mau.” Aku menoleh, ternyata pria itu sudah berdiri di pintu toilet.
“yeah, kau dapat membantuku dengan tidak menumpahkan susumu ke pakaianku.” Balasku dengan nada kesal.
“aku sudah minta maaf.”
“maaf tak akan membersihkan pakaianku.”
“sini ku bantu bersihkan.” Pria itu berdiri disebelahku, ia menunduk dan , memegang pakaianku lalu meremahnya di pancuran air. Aku sedikit canggung, tak ada pria yang pernah atau berani sedekat ini denganku sebelumnya. Begitu dekat hingga aku dapat melihat matanya yang coklat, mata yang indah. “sudah, aku dapat membersihkan sendiri pakaianku.” Ku tarik pakaian ku dari tangannya, ia mengangkat tubuhnya. Aku lalu meneruskan membersihkannya, tetapi sia-sia nodanya terlalu pekat.
“kau tahu, sepertinya kau dapat menggunakan ini.” mengeluarkan sesuatu dari tasnya, tenyata sebuah pakaian. ”kakak ku meninggalkan pakaiannya di tas ku, ku pikir ukuranmu tak beda jauh dengannya. Pakailah.” Ia menyodorkan pakaian itu.
“tidak terima kasih.” Ku tolak dengan kasar.
“ayolah, anggap saja ini permintaan maaf. Kau bilang maaf tak bisa membersihkan pakaianmu, tetapi setidaknya pakaian ini bisa mengganti pakaianmu yang kotor.”
Aku memandangnya, aku tak menyangka senyumnya sangat manis. Namun aku tetap menjaga raut wajahku, aku tak mau ia menyadari kekaguman ku.
“baiklah, tapi ingat jika saja aku tak harus masuk ke kelas biologi setelah ini aku tak akan menerima pakaian ini.” aku melangkah menuju bilik toilet untuk berganti baju. “baiklah, aku terima itu. Ngomong-ngomong namaku Freddy Jones.” Aku tak menjawabnya. Aku hanya keluar bilik dan meninggalkannya di toilet. Aku bahkan tak melihat nya lagi ketika pergi.

Saat itu lah pertemuan ku dengannya yang pertama kali. Saat itu aku tak lagi berharap atau mau bertemu dengan nya lagi, aku hanya menggangapnya sebagai penggangu yang tak ingin ku temui lagi. Dan memang benar, aku tak bertemu lagi dengannya.

Tetapi 2 minggu kemudian saat aku sedang dikelas biologi, aku merasa ada seseorang duduk didekatku. Ketika ku lihat, ternyata dia lagi. Aku sangat kesal melihatnya.
“masih kurang kau menumpahkan susu ke pakaianku, sekarang kau mau apa? Melemparku dari jendela?”
“hey, tenang. Aku tak akan sesadis itu, walaupun kau adalah orang yang paling menyebalkan disekolah ini.”
“lalu kau mau apa?” ku lirik matanya dengan tajam, tetapi sekali lagi mata coklatnya membuat pandanganku buyar.
“aku hanya ingin mengembalikan ini.” ia memberikan pakaian ku yang sudah terlipat bersih. “kau meninggalkannya di toilet waktu itu, dan sudah ku cuci bersih. Aku pikir sudah cukup permintaan maafku.” Perasaan marahku semakin luluh, sebaliknya aku merasa senang.
“baiklah, ku terima permintaan maaf mu.”
“ngomong-ngomong kau belum memberitahu namamu.”
“nama ku Bridget Finn.”
“nama yang bagus, aku Freddy Jones.”
“aku sudah tau itu, kau sudah menyebutkannya.”
“oh, baiklah. Kau tau Bridget, bagaimana jika ku traktir kau nonton. Saat ini dikota sedang ada film yang bagus.”
“tidak.” Ku jawab dengan singkat.
“ayolah Bridget, anggap saja ini sebagai permintaan maafku yang terakhir.” Senyum menggembang di bibirnya.
“baiklah. Sekarang bisakah kau pergi dari sini?”
“okay, ku tunggu kau di gerbang sekolah besok sore.” Ia pergi seketika.
Keesokan sorenya kami pergi ke bioskop, aku tak manyangka ternyata Freddy Jones adalah pria yang baik. Ia selalu membuatku tertawa dengan leluconnya, bertahun-tahun aku tak pernah lagi tertawa. Bahkan aku lupa bagaimana rasanya tertawa, aku berterima kasih kepadanya karena membuatku kembali tertawa. Mudah-mudahan ia mendengarnya.

Hubungan kami semakin lama semakin dekat, Freddy selalu mengantarku pulang setelah sekolah. Aku sama sekali tak mengerti apa yang membuatnya nyaman terhadap wanita sepertiku, aku dingin dan buka teman yang baik. Aku bahkan sering menyakiti orang lain, tetapi sepertinya ia tak perduli. Aku pun nyaman terhadapnya, ingin sekali aku percaya sepenuhnya terhadapnya. Tetapi sebagian diriku mengatakan jangan percaya dengannya, ingat bagaimana ayahmu menyakiti ibumu. Tak ada yang sungguh-sungguh di dunia ini, semua hanya pembohong. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melawan pikiran itu, senyum hangat dan mata coklat Freddy membuatku semakin lama semakin percaya. Aku tak bisa menepis satu kenyataan yang sekarang aku rasakan, kenyataan bahwa aku menyanyanginya.

Suatu malam ketika kami sedang berada ditaman, aku pernah menanyakan kepadanya mengapa ia mau menghabiskan waktu bersamaku. Ia hanya menjawab “kau mempunyai senyum yang indah, tapi sayang kau jarang tersenyum. Awalnya aku pun membencimu, bagaimana kau menyakiti orang lain atau bagaimana dinginnya kau dengan dunia. Tetapi kemudian saat aku mendengar apa yang kau alami, aku hanya berpikir mungkin kau wanita yang baik. Semua orang tak akan mampu menghadapi apa yang kau alami, dan aku dapat mengerti apa yang kau rasakan.” Ia mengatakannya dengan nada yang lembut, bahkan ia tak melihatku saat berbicara. Ia hanya melihat ke langit malam, padahal kami berbaring berdekatan, berbaring di rumput yang sama. Kemudian ia memandang wajahku, sebuah senyuman mengembang dari bibirnya.
Seketika itu kepercayaanku kembali lagi, aku percaya bahwa diantara omong kosong yang sering kita dengar pasti ada satu kebenaran yang dapat kita percaya.

Aku seperti kembali hidup, aku seperti dapat bernafas lega. Kini aku punya tujuan, aku tau itu. Aku merasa dapat berlari sekencang-kencangnya untuk itu, mata coklat dan senyuman itu. Hari-hariku semakin baik, hampir setiap hari aku habiskan untuk menghibur ibuku. Aku tak akan selamat sendiri, aku harus menyelamatkan ibuku sama seperti Freddy menyelamatkan ku. Tetapi sayang aku tak dapat menyelesaikannya, aku tak pernah menyangka aku akan seperti ini...

Malam itu aku berjalan pulang bersama Freddy, setelah seharian penuh menghabiskan waktu di kota. Freddy mengantarkanku hingga sampai rumah, ia mengecup keningku sebelum kumasuki rumah. Ku lihat wajahnya yang terbias oleh cahaya lampu jalan sebelum ku tutup pintu, aku berjalan dengan senyum yang menggembang. Koridor rumahku sangat gelap waktu itu, pasti ibu ku sudah tidur, ku pikir begitu. Aku melangkah ke kamarnya untuk mengecup dahinya dan mengucapkan selamat tidur. Tetapi saat ku buka kamar ibu ku,

aku melihat ayahku tengah menyayat leher ibuku dengan pisau dapur.

Ibu ku sudah tergeletak bersimbah darah di tangan ayahku, wajah ayahku sangat menyeramkan, bahkan lebih menyeramkan dari yang pernah ku lihat. Air mataku mengalir saat melihat tubuh ibu ku yang sudah tak bergerak, ayahku menyeringai dan bangkit untuk mengejarku. ia mengatakan
“kalian harus mati, tak ada yang boleh meninggalkanku.”

Aku berlari melewati koridor yang gelap, aku berlari sekencang-kencangnya. Ku dobrak pintu utama, aku berhamburan keluar. Aku dapat melihat ayahku mengejar ku dengan pisau dapur di tangannya, jantungnya seperti terbakar. Aku akan mati, mati ditangan ayahku sendiri.
Tetapi aku tak mau menyerah, aku tetap berlari sekuat tenagaku dijalan yang sepi. Dari jauh aku melihat seorang berjalan sendiri didepanku, ternyata dia adalah Freddy Jones.

Seketika aku berteriak padanya agar ia lari, ia menoleh dan terperanjat melihat aku berlari diikuti ayahku. Ia mengulurkan tangannya dan menarik ku agar aku berlari lebih kencang, disaat ajal akan menjemput pun ia memilih untuk memegang tangan ku. Ia tidak lari meninggalkanku, atau pun menyelamatkan dirinya sendiri. Ia tetap memegang tanganku, kami berlari sekuat tenaga. Ia memberikan ku semangat agar aku berlari lebih kencang, langkah kaki ku sudah semakin melambat.
“lari Bridget, jangan melihat kebelakang.” Ia berteriak kearahku, aku tau aku tak boleh menyerah. Tetapi jantungku sudah seperti ditusuk-tusuk, air mataku mengalir dari mataku.

Hingga akhirnya kami sampai disebuah jembatan pembatas kota, aku sudah tak kuat lagi berlari. Aku dan Freddy terhenti ditengah jembatan,
“tetaplah berlari Bridget, mungkin dia masih dibelakang.”
“tapi aku sudah tidak kuat lagi.”
“ ayolah Bridget, ku mohon.” Baru sekali itu aku melihat air mata jatuh dari mata coklatnya, ia benar-benar memohon.
“baiklah.” Ku angkat tubuhku, dan bersiap berlari. Tetapi sayang pisau ayahku sudah terlebih dahulu menancap dipunggungku, dapat kurasakan nyeri sayatan di punggungku. Setiap kali ayahku mencabut dan menancapkan pisaunya di punggungku rasa sakit itu seperti meremukan tubuhku. Tetapi yang paling menyakitkan adalah saat melihat air mata jatuh dari mata Freddy, mata yang selama ini menghangatkan ku. Hal terakhir yang ku dengar adalah teriakan Freddy yang memanggil namaku, pandanganku semakin memudar. Hingga akhirnya ayahku melemparkan tubuh ku ke sungai, tubuh ku melayang diudara hingga akhirnya mengahantam air sungai yang dingin. Saat itu lah terakhir kalinya aku melihat Freddy, aku tak tahu apa yang ayahku lakukan terhadapnya. Aku rindu sekali dengannya, aku rindu mata coklatnya.

Hingga saat ini aku masih menunggu di jembatan ini, hatiku hancur. Aku harus kehilangan orang yang baru saja menyelamatkanku, orang yang aku sayangi. Tetapi aku akan tetap menanti di jembatan ini, aku yakin dia akan datang kembali ke sini. Tiap malam aku memanggil-manggil namanya dari balik gelapnya malam, dan setiap malam selalu ku tanyakan keberandaan Freddy pada setiap yang lewat di dekatku. Tetapi sepertinya mereka tak mengerti, aku tak bermaksud menakuti mereka.

Semakin lama semakin sedikit yang melewati jembatan ini dikala malam, hatiku memang hancur tapi aku tak berniat jahat. Aku pun tak menyalahkan mereka, mungkin rupa ku memang tak bisa mereka terima. Ayahku meninggalkan luka tikaman pisaunya yang menganga lebar dipunggungku, bajuku pun di penuhi noda darah.
Hal paling mereka takuti adalah wajahku, aku masih ingat bagaimana kerasnya aku menghantam air. Bagaimana perihnya mataku saat menghantam air hingga darah memenuhi bola mataku, diantara dingin air sungai itu aku masih merasakan nyeri diwajahku akibat menghantam batu didasar sungai. Aku pikir wajahku hancur, hingga mereka tak lagi senang melihat ku.

Mereka menamai jembatan ini dengan namaku, mungkin karena setiap malam aku selalu terlihat dijembatan ini. aku yakin Freddy ada disuatu tempat, dan suatu hari ia pasti menemukan jalan untuk kembali ke jembatan ini. dia pasti tau jika aku selalu menunggunya disini, hingga kapan pun. Walaupun entah harus berapa tahun atau abad aku harus menunggu, aku tak keberatan. Aku yakin ditempatnya sekarang Freddy dapat mendengarku, seperti aku dapat mendengar desah nafasnya.
Freddy Jones, dimana pun kau berada saat ini. aku ingin kau tahu bahwa aku menyayangimu. Aku yakin kau tahu itu. Jika kau mendengarku, maka datanglah kepadaku. Jika kau tersesat ikuti suaraku, aku yakin kau dapat menemukanku. Aku tahu itu...


sumber : klik disini atau follow @kisahhorror ;)

Jumat, 02 Maret 2012

horror

haloow semuaaaa \(^0^)/ long time no see
langsung aja, akhir-akhir ini aku lagi keranjingan cerita horror. tapi bukan horror indonesia -__- aku lebih seneng horro import. tepatnya horror manca yang ceritanya menarik.

keranjingan ini nggak serta merta muncul tiba-tiba tanpa sebab. ini semua berawal dari keisenganku visit blog dari kakak kelasku. disitu, ada sebuah cerita horror yang seru. katanya sih ngopy dari salah satu web yang digunakan orang-orang buat share cerita-cerita horror.

ini link nya : http://creepypasta.wikia.com/wiki/Creepypasta_Wiki

nggak cuma web, di twitter pun juga ada. ini : @kisahhorror . go cekidot follow bagi yang seneng cerita-cerita horror. admin dari kisahhorror ini hampir tiap malem ngetweet cerita baru yang nggak kalah seru :)